"Temenin buang sampah yuk.."

Postingan pertama tahun 2016...
Gokil, kelamaan banget gak ngisi blog.

Mau berdalih sibuk pun, nyatanya hanya sibuk malam hari. Siang hari gue pakai hibernasi. Meh.

Oke, gue mulai dari mana ya...

...

Belum lama ini, gue akhirnya bisa sempet nonton salah satu franchise film horor favorit gue, yup, The Conjuring 2

Kebiasaan gue sebelum nonton sebuah film di bioskop adalah ulik -ulik tentang filmnya. Mulai dari trailer, preview, review film sebelumnya (jika itu sekuel) hingga komentar kritikus film sampai yang udah nonton duluan. Well, The Conjuring edisi pertama menurut gue adalah film horor khas Asia yang "dibaratkan" oleh James Wan dan kawan - kawan. Siapa yang lupa dengan Bathseeba, hantu yang suka nangkring di atas lemari? Atau Annabelle dengan keimutannya? 

Film horor dengan cerita bagus itu keren. Film horor dengan artis - artis berpa**dara besar, mungkin menarik bagi sebagian orang (baca : laki - laki), tapi kalau udah bahas ceritanya yang bagus, lu bakalan dapat sensasi film horor itu nyangkut di kepala terus berminggu - minggu.

Lanjut ke The Conjuring 2, karena trailernya dan hantu biarawati ber-make-up tebelnya ini lah, gue makin tertarik menyaksikan film ini langsung di ruangan besar yang gelap itu. Gue membayangkan ruangan akan penuh dengan teriakan masyarakat bioskop. "Berdasarkan kisah nyata", tiga kata barusan bikin beberapa orang mungkin nyesel udah masuk ke dalam studio. 

Mau cerita filmnya.... tapi mendingan nonton sendiri.

It's a wrap. Bagus. Filmnya bagus. Dengan latar belakang London tahun 70an, alur cerita bagus, Jumpscare yang pas, perawakan hantunya yang lebih rapi dan "cantik", oh ya, ada 2 wujud astral dalam film ini, Bill Wilkins dan yang baru - baru ini sering dibully di sosmed, Valak. Overall, gue suka dan akan gue koleksi di laptop. Nambah lagi pengalaman gue nonton film horor. 

Oke. Gue akan bahas sedikit tentang tips - tips dari gue buat mereka yang suka film genre ini namun terlalu takut membayangkan wajah seram para hantu di film.

But wait, gue bakal ceritain dulu kenapa film macam ini jadi one of favorites.

Gue aslinya penakut soal nonton film horor. Beneran. 

Ketika gue kecil dulu, gue suka nontonnya aja tapi jantung gue berdebar, otak gue mengingat dengan jelas wajah para hantu menyeramkan itu. Biasanya, gue akan takut ke kamar mandi, ke dapur, bahkan nutup mata sekalipun. Ketika akan mandi gue akan buka sedikit pintu kamar mandinya, jaga - jaga aja kalau lagi asik nyampo tiba - tiba ada hantu bantuin gue bilas rambut, kan gak lucu kalau gue buka pintu dulu, ribet, keburu gue ditelen.

Saking takutnya, gue akan minta ditemenin melakukan apapun.

"Raja (adek gue), temenin buang sampah yuk ke depan rumah.", ujar gue yang baru aja nonton salah satu film horor dari Alm. Susana, jam 2 siang di Lativi (sekarang TvOne). Ya... Gue emang sepenakut itu dulu. 

"Iya, tapi abis itu temenin ke belakang ya buat ambil makan", balas adek gue. Ya... Kami emang sepenakut itu dulu.
 
Ketika gue SMP, gue bahkan bisa takut dengan video - video kecelakaan, pemenggalan sandera sampai proses otopsi. Imajinasi gue kampret banget soal ini. Setelah melihat video macam itu, dengan cerdasnya otak gue akan mencampurkannya dengan wajah - wajah seram di film horor yang udah gue tonton. Imbasnya, gue akan takut tidur. Thanks, brain.

Memasuki SMA, gue bertemu dengan banyak teman yang movieholic. Berbagai genre. Jadilah gue minta referensi film dari mereka. Yang bikin gue akhirnya tertarik dengan film horor malah film dengan suasana gore-nya lebih banyak dibandingkan horornya, SAW.

Awalnya gue iseng ngintip teman - teman futsalan yang ngerubungin satu laptop di kelas. Biasanya kalau udah ada pemandangan ini, antara mereka nonton film, lihat video - video, kerja kelompok atau narsis dengan Webcam yang hasilnya fotonya bisa ratusan. Waktu itu, gue yakin mereka nonton film horor atau semacamnya dilihat dari ekspresi mereka yang serius nahan nafas bukan ganti gaya setiap detik dengan posisi duduk yang tidak berubah.

Di film itu, gue ngeliat dokter yang punya peralatan aneh di lehernya, setelah beberapa dialog dan usaha melepaskan diri dari benda tersebut, kepala dokter ini pecah. Darah dan isi kepalanya kemana - mana, yang tersisa hanyalah leher dan rahang bawah. Reaksi gue? Gue tertawa. Gue ketawa, beneran ketawa. Entah kenapa gue bisa ketawa, biasanya gue akan mengingat adegan tersebut berbulan - bulan. Tapi kali ini, enggak. Mungkin adegan barusan bangunin mahluk psycho di badan gue. Gue akhirnya minta film ini dan gue tonton sendiri dan ngikutin sekuel - sekuelnya. Gue suka banget filmnya, tokoh utamanya cerdas, memang gore abis, tapi ada pesan tersendiri dari tiap game yang dimainkan korbannya. Keren.

Lalu, gue terdorong untuk nonton film horor... Gue merasa kalau udah bisa nonton film dengan darah dan organ manusia yang hancur, kenapa gue gak bisa nonton film dengan hantu yang tembus pandang. Percobaan gue dimulai langsung dengan film yang sering disebut sebagai film horor terbaik yang pernah dibuat, The Exorcist (1973).


Ketika tombol play gue tekan, Headset gue pakai, volume gue kencangkan, jantung gue gak tenang. Wajah wanita yang kemasukan roh jahat, nempel terus di kepala gue. Betapa berantakan giginya dengan luka gores dimana - mana. Kalian tahu wajah perempuan yang suka kalian lihat di website buat ngerjain orang - orang? Pasti tahu. Mukanya khas banget. 

Selesai nonton film itu, gue ngerasa ada yang gue lewatkan. Gue ulang adegan - adegan penting dan memperhatikan wajah si korban roh jahat ini. Gue pelan - pelan ngerasa biasa aja. Tapi gue masih ragu. Gue lanjutin nonton film lainnya, dan kali ini gue fokus ke film horor Asia, hantu mereka lebih seram dibandingkan hantu dunia barat. Mulai dari The Ring, Ju-On, Shutter dan One Missed Call lalu gue lanjutin dengan film horor Indonesia yang menurut gue bagus yaitu Kuntilanak dan gore yang rapi dari Rumah Dara. Semuanya bisa gue lewatin. Tanpa ketakutan besar seperti dulu. Bahkan film macam Paranormal Activity (waktu itu booming banget film ini) bisa bikin gue ngantuk karena hantunya yang tahu persis ada kamera CCTV dimana - mana.

Memasuki kuliah, gue makin gila dengan film - film ini, kalian tahu film gore "Wrong Turn"? My another gore. Sinister bikin gue makin suka dengan film horor, lalu Insidious, Evil Dead dan beberapa film horor lain antara tahun 2012 - 2015 dan sampailah pada The Conjuring 2. Lalu gue menarik beberapa kesimpulan dari pengalaman gue nonton film horor buat mereka yang terlalu takut tapi tetap mau nonton (tips ini gak akan berguna buat kalian yang rajin beribadah, kalian hampir pasti gak akan ketakutan nontonnya) :

Jangan ditungguin hantunya.
"Abis ini, muncul dari mana nih setan?"
Buat apa? Itulah yang bikin kalian makin ketakutan. Pikiran kalian akan terpancing dan akan mencari - cari di sudut mana hantu akan muncul atau akan ada adegan apa selanjutnya. Santai aja. Kalaupun hantunya datang cukup bilang "Wah..", coba saja, hantu itu hanya muncul di layar, bukan muncul dari belakangmu. 

Nikmati alur ceritanya.
Film horor katanya dibikin hanya untuk nakut - nakutin, kata siapa? Film "Goodnight, Mommy", "The Gallows", "Insidious", enggak tuh. Jalan ceritanya bagus, kalau kalian bisa ngikutin ceritanya tanpa nungguin hantunya, kalian bakal nikmatin seluruh film tanpa harus nutup mata atau telinga. Jumpscare memang nyebelin, tapi inilah caranya ngatasinnya. Jumpscare itu bikin otak kita seperti diajak membayangkan kemunculan si hantu di film sampai akhirnya datang dan "ARGGH!", hantunya muncul dan lebih seram dari bayangan kita. Simpelnya, gak usah nungguin dan bayangin hantunya, buat apa. Nikmatin aja ceritanya.

Mending dimakan popcornnya.


Bayangin yang lucu, bukan yang aneh - aneh
Bayangin hal - hal humor.
Bagi gue, ini ampuh. Apalagi ketika lu nonton langsung di bioskop, mendengar orang jerit gak karuan bisa jadi humor tersendiri. Sebenarnya, apapun itu tergantung pikiran kita sendiri, ketika kita membayangkan hal yang seram, pikiran kita seolah - olah menciptakan suasana seram itu sendiri, gokil kan. Jadi, ketika adegan hantu muncul sambil teriak, lebih baik ingat kelakuan konyol kalian atau teman - teman kalian. 

Atau, ingat hal – hal yang lebih seram dari filmnya.
Seperti omelan orang tua kalian, guru atau dosen kalian, tugas yang numpuk, kompor yang masih nyala di dapur kostan, udah tanggal tua tapi belum dapat kiriman dari orang tua, 34 “missed call” dari ibu kalian atau "gpp" dan emot smile sarkas " :) " dari pacar. Gue yakin hantu di film tersebut akan terlihat garing di mata kalian.

Seraman yang mana?
Dan yang terakhir, sadarilah bahwa itu hanya film.

Memang seram, I know it, tapi itu memang bohongan. Meskipun diangkat dari kisah nyata, tapi dramatisasi film kadang suka berlebihan. Jangan dianggap serius. Jangan sampai karena kalian abis nonton The Conjuring, kalian percaya bahwa semua hantu sejahat itu, tidak, itu hanya di film dan kasus horor nyata sadis semacam itu jarang - jarang terjadi.

Segitu dulu dari gue, semoga bisa kalian coba. Bukan berarti gue jadi pemberani dan nyoba tidur di pemakaman, enggak... Selain dingin, gue juga gak mau tidur ditemenin pocong. Sampai saat ini, gue bahkan belum 100% berani nonton film horor sendirian. But guys, film jenis ini terlalu bagus buat diabaikan. Selain itu, gue suka dengan kutipan wawancara dari paranormal yang disertakan dalam pembuatan salah satu film horor terkenal Asia...

"Film horor mengingatkan kita bahwa kita memang tidak sendirian. Mereka ada. Namun hanya mereka yang kita usik saja yang akan mengganggu kita, sisanya? Tergantung keberuntunganmu."

Ciao.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer