Senior High School Stories: First Grade, The Beginning

Banyak yang bilang, SMA adalah masa terindah ketika muda. Yup, itu benar. Itu yang gue rasakan selama gue sekolah di SMA Negeri 1 Karawang. Salah satu SMA tertua di Karawang, legendaris. Dari sejarahnya, sekolah ini banyak menghasilkan lulusan terbaik setiap tahunnya. Lo pasti hebat bisa masuk sini. (Setidaknya gue masih heran kenapa gue bisa masuk waktu itu..). Nyokap, adalah figur yang bikin gue pada akhirnya berlabuh disini. Kata nyokap, gue bisa lebih fokus untuk belajar, yang akhirnya malah enggak. Malah berakhir jadi babi malas yg cerita cintanya menyedihkan.  Maaf ma, anakmu sudah kesurupan iblis malas. Bareng dengan Victor waktu itu, gue berhasil lewatin tes masuk dan wawancara bahasa Inggris. Gue mungkin masih rajin ketika itu. Well, untuk lulus dari sini emang gak mudah. Banyak halangannya, terutama untuk jam tidur lo. 3 tahun, gue berusaha bernafas dengan diantara debu-debu pengetahuan ini. Dikuatkan dengan keseharian yang dipenuhi canda-tawa di kelas. Puji Tuhan, gue bisa lulus dan seangkatan 50 juga lulus semua 100% ( Angkatan gue saat itu yang ke 50, Angkatan Emas).

Kesan pertama gue waktu itu adalah.. yah bakalan jadi 3 tahun yang lama disini. Lingkungannya "sangat SMA" sekali disini, persis yang sering ditayangin di TVRI (Wait, gue emang pernah nonton TVRI ya?). Waktu itu cukup banyak yang ngedaftar, gue sih biasa aja, karena waktu itu hati gue gak disitu, gue malah lebih milih masuk SMKN 1 Karawang, namun karena gue adalah anak yang taat orang tua dan gak mau dikutuk, jadi gue nurut aja tes disini. Mata gue gak memandang kemana-mana waktu itu, fokus ngelihatin foto orang di kartu tes gue. Itu siapa, kok mirip gue.

Wajah Depan SMA tercinta
Waktu Masa Orientasi,

"MAMA, MINTA AERRR!!!" itu yang ada dipikiran gue. Meskipun rata-rata menghabiskan waktu hanya duduk dan melihat senior "berakting", tetep aja ngeluarin banyak keringat. Buat kalian yang gak tahu Karawang, Karawang itu kalau udah panas banget, lo bisa rebus telur di lapangan. Gue untungnya terbiasa dengan teriakan-teriakan orang, gue sering diteriakin ketika pipis tengah jalan, seperti: "MAS, MALU DONG!!! KOK GAK DISIRAM SIH!!?" 


Lalu gue jawab santai, "Nanti juga kering sendiri, pak."

Senior mulai bernyanyi ketika salah satu anak dari satu angkatan bikin ulah. Satu salah, semua kena. Bagus sih, ngajarin kita supaya disiplin dan jangan sampai rugiin orang lain. MOS waktu itu dibagi ke semacam kelompok dan gue berada di Bangsa 2. Kelak, dari kelompok ini ada 2 orang yang bikin perubahan besar buat gue. Untuk itu masih lama diceritainnya.

Gue sebenernya kurang mendapat perlakuan enak dari senior semasa MOS, karena gue pakai tas tali "Jakmania" , gue seperti "terlalu diperhatikan' ketika itu. Bodo amat! Haha. Gue masih terikat fanatiknya sepakbola ala bocah waktu itu, apa-apa yang berhubungan dengan 'musuh', langsung gerah. 

Semasa MOS, gue gak terlalu memperhatikan anak ceweknya saat itu. Mungkin karena terlalu ngantuk paginya dan terlalu ngantuk siangnya. (Lah..). Namun, mata gue langsung tertuju ke salah satu anak cewek lulusan SMP yang juga satu yayasan dengan SMP gue. Dia adalah salah satu dari 2 orang yang bikin perubahan besar di hidup gue di Bangsa 2. Gue langsung mengira dia adalah anak cewek tercantik seangkatan waktu itu. Gue sempat ngobrol dengan dia dan berharap dia sekelas dengan gue nanti, well, itu terkabul. 

Lalu, masa orientasi selesai, singkatnya gue ditempatkan di kelas 10-3, bersama dengan beberapa teman yang gue kenal dari Bangsa 2, termasuk dia, mari kita sebut dia Mou. Ada Fahmi, yang sudah diperkenalkan terlebih dahulu oleh Victor, karena sekelompok dengan dia. Lalu ada Ijal, pria Karaba asal Surabaya, yang juga suka Persija. Lalu ada Caul, pendukung Persib yang kocak. Setelahnya gue dekat dengan Azi, Deka, Faat, Weno dan Jaja. Gue gak berani kenalan dengan anak ceweknya waktu itu, karena gue pemalu. (Udeh, terima aja gue pemalu). Anak cewek yang pertama gue kenal adalah Lulu yang merangkap jadi pacarnya Deka waktu itu... waktu itu. Lalu, Mou dan Risa. Victor ditempatin di kelas 10-1, sekelas dengan orang yang suatu saat bikin gue paham apa itu yang namanya "Rasa Sayang", dia adalah orang selain Mou, yang bikin gue berubah.

Pasukan Sepuluh Tiga (PASTI - SICHER)
Awal sekolah, selalu identik dengan yang namanya buku pelajaran baru. Dikala anak yang lain bolak-balik halaman buku dengan semangat, gue malah sulap buku itu jadi bantal . Gue lebih milih tidur karena gue mual lihat materi-materi pelajarannya yang gue kira bukan dibikin sama manusia. Oh ya, SMA gue dulu sempat jadi trending karena menganut sistem RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Indonesia), jadilah gue disarankan punya laptop ketika itu. Well, gue agak gaptek waktu itu, bisa buka Google di hape sendiri aja girang, ngetik aja pake satu jari, terus kalau ngetik dengan kecepatan super, berakhir seperti lo ngetik pake mesin ketik, berisik. Sekelasan pengen bunuh gue mungkin. 

Tapi, kebanyakan laptop waktu itu malah berakhir jadi sarang lagu-lagu, film dan game. Jadilah beralih fungsi yang seharusnya alat belajar malah jadi alat belajar namatin-Need For Speed Underground 2-dalam-waktu-3-hari. Yang lebih esktrim adalah ketika lo lebih memilih gaming ketika guru lagi ngejelasin. Ngelebihin uji nyali mungkin. Karena RSBI, semua serba online, ulangan contohnya. Dan ulangan online itu, susah diconteknya, sang guru punya banyak akal agar muridnya gak bisa "transfer ilmu" ke murid yang lain. Dan gue adalah salah satu pihak yang menentang ulangan online. Bagaimana nasib tukang tidur kayak gue!!??

Mungkin karena terus dihadang berbagai kesulitan, akhirnya ulangan online ditiadakan waktu itu. Emang.. Doa orang terzalimi dikabulkan.

Tuh, gue kalo lagi belajar.
Guru yang merangkap sebagai wali kelas waktu itu adalah Pak Yunir, bapak ramah, sederhana yang humoris. Awalnya, gue bersemangat sedikit di awal semester, meskipun gak bisa berbuat apa-apa pada akhirnya. Anehnya, gue memulai semangat belajar gue waktu itu karena tertarik dengan Kimia dan mengakhirinya karena Kimia juga. Maafkan aku, bu...

Dulu, gue akan langsung deg-degan ketika gue disuruh menjawab soal. Seperti ditanya, "untuk apa saja hidupmu?". Bukan karena gak bisa, tapi karena gak tahu harus jawab apa (sama aja ya?) dan pada akhirnya gue curi-curi pandang ke temen-temen gue sambil pasang muka kucing. Akibatnya, kebanyakan mereka malah kena paru-paru basah karena mimik muka gue. Dan soal PR, gue sebisa mungkin mengerjakannya di rumah.. Minimal gue isi satu... Atau gak gue lihat aja. Lalu, paginya gue kerjain dengan bantuan dari kitab suci pengetahuan yang gue sebut "Buku PR Teman".

Ketika patah tulang dulu, masih sempet jualan.
Gue ikutan ekskul futsal dan Paskibra pada awalnya. Dengan tujuan agar gue bisa kurus, gue berusaha survive di kedua ekskul itu. Untuk Paskibra, gue nyerah pada akhirnya. Gue sayang sama temen-temen gue, cuma gue harus sayang sama sistem pernafasan gue. Untuk futsal, gue menjadikannya lebih sebagai hobi. Maennya juga gak jago. Biasa, dan sangat standar. 

Paskibra 2010
Awal semester, banyak pelajaran yang mengharuskan lo kreatif. Contohnya, Fotografi dan Bahasa Indonesia. Untuk BI, pasti familar dengan puisi dan drama, gue gak asing lagi. Sementara, untuk Fotografi, gue bingung harus apa. Gue mau jadi fotografer susah.. Kamera hape gue waktu itu masih banyak semutnya. Ketika ditugaskan membuat foto dengan berbagai tema yang bebas. Gue dan temen-temen entah kenapa memikirkan tema narkoba. Dengan muka yang seperti gak makan 2 bulan dan muka ngantuk, gue dan temen-temen gue berpose depan makam, errr maksudnya kamera..
Untuk BI, kemampuan gue dikeluarin disini. Karena gue masih tertarik dengan sastra atau apapun itu yang berhubungan dengan seni. Mendengar ada tes praktek Dramatisasi Puisi, gue langsung tertarik buat nunjukin skill gue. Ya minimal gue gak cuma bisa ngabisin jatah oksigen orang lain, kan?

Dramatisasi puisi gue bareng dengan seseorang yang akan gue suka tapi hanya sebentar sukanya. Dan yang kebetulan lagi, gue dapet peran sebagai kekasih dia ceritanya. IYA CERITANYA!


Dia gue kasih nama samaran, Jem. (Kenapa Jem, terserah gue). Dia anak manis, cantik sih sebenernya. Wajahnya Sunda sekali. Mini kecil badannya. Pokoknya menggemaskan. Gue sama dia, seperti biasa, gue gak pernah berani deketin, hanya bisa bercandaan sama dia di kelas. Gak ada gerakan apapun.

Mahakarya...Udeh terima aja!
Dia pun akhirnya malah jadian dengan temen sekelasan gue. Setelah dilihat selalu, berduaan kemana-mana, mereka akhirnya dipaksa mengaku oleh sekelasan. Gue masih inget hari itu. Gue hanya nyengir kering. Beberapa temen gue yang tahu gue suka sama Jem, hanya bisa ngasih senyum getir ke gue yang udah males nafas waktu itu.

Gue gak lama suka sama Jem. Meskipun gue masih nunggu dia putus dengan temen gue, tapi malah akhirnya setelah putus dia malah jadian sama kakak kelas yang memang sudah jadi teman dia. Yah, yang ini memang bukan jodoh sekali.

Ini ketika Dramatisasi Puisi. 
Waktu berlalu, gue sempet gak suka siapa-siapa di kelas. Maupun di kelas lain. Masih sibuk ngurusin schedule tidur gue yang harus dituntaskan di kelas. Beberapa pelajaran, gue nikmati sambil tiduran. Beberapa guru mencap gue sebagai anak malas dan tukang tidur. Gue hanya tertarik dengan olahraga, seni rupa dan ekskul futsal.

Lalu, gue akhirnya kembali memikirkan Mou. Dia judes tapi ngangenin. Cantik dan pintar. Pokoknya dia adalah tujuan gue masuk sekolah dulu. Di kelas, sebisa mungkin gue cari perhatian ke dia. Gak gagal-gagal amat sih, tapi ya gitu, garing. Hehe. Gue ke dia, seperti biasa, gue gak pernah smsan sama dia. Masih jaman Facebook waktu itu,dan dimana orang-orang waktu itu ngegebet cewek di Facebook, gue malah sering-sering buka nokia.com demi tema hape gue. (Tuhan, sen, sen) Sekelasan sudah tahu gue suka sama dia. Mereka juga ceng-ceng-in gue mulu kalo lagi ngobrol sama Mou. Seperti....

"Cieeee Senna! Kok celananya basah sih?"

Iya, temen-temen gue emang kampret.

Balik lagi ke cerita, Mou singkatnya anak yang sangat rajin, pelajaran apapun dia kuasai. Sepertinya, ada buku di otaknya. Bagi gue yang waktu itu masih suka nempelin upil di dinding, rasanya mustahil mendapatkan dia. Jauh sekali perbandingannya. Minimal, menyatakan perasaan ke dia waktu itu, akan sangat menegangkan pikir gue. Dia pernah gue benci namun tidak lama, dia pernah memandang gue dengan tatapan benci ketika gue gak bisa menjawab pertanyaan guru gue. Well, saat itu gue seperti mengutuk dia.

Namun, rasa suka gue lebih besar. Gue abaikan sakit hati gue waktu itu demi dia. Gue suka menyimpan rasa suka gue terhadap orang lain. Ada keasikan tersendiri. Seperti ingin memiliki tapi tak bisa. Mou, kalau memanggil nama gue, gue akan deg-degan sendiri. Darah gue ngalir kenceng, kepala gue pusing. Mata gue gak bisa liat mata dia.
With Bung Ferry.
Gue akan ngerasa sangat jelek di depan dia. Ya padahal dia cuma mau nanyain, buku catatan dia udah selesai dipinjem atau belum sama gue.... Hehe. Mou, pada akhirnya pacaran dengan kakak kelas yang menurut gue, penampilannya sangat "lembek". Dengan postur badan gue waktu itu, gue ngerasa bisa menang kalau berantem sama dia. Kakak kelas penyuka Justin Bieber (Yuck!), ya mungkin dia jadi deket dengan Mou karena selera musik yang sama. Soal selera musik, gue berpegang teguh dengan musik-musik The Beatles.

Yaah, begitulah, waktu berlalu.

Gue dengan dia, tidak pernah saling sapa lagi. Terakhir kali waktu itu adalah ketika Pagelbud, salah satu acara yang mementaskan drama musikal di sekolah gue. Setelah itu, lalu liburan dan gak pernah gue hubungin lagi.

Kelas satu SMA, saat gue masih ngeraba lingkungan baru, gue adaptasi hingga bisa kayak sekarang. Gue bisa bilang waktu itu adalah titik gue bisa sampai kayak sekarang, gue mungkin memang malas belajar tapi gue nemuin arti sesungguhnya teman disini.




Pasukan Hijau Goes To Candi Jiwo.
Banyak yang gue kangenin saat ini. Class Meeting, saat-saat sedih dan senangnya, ketika gue patah tulang bahu karena kecelakaan motor yang bikin gue trauma darah sampai saat ini, ketika gue ketemu Bung Ferry (Mantan Ketum The Jakmania), ketika gue nonton Persija pertama kalinya di Jakarta, main ke Candi Jiwo.

Gue sedih ketika kami waktu itu harus dipisah, menjadi kelas IPA dan IPS. Beberapa temen deket gue masuk ke kelas yang sama dengan gue selanjutnya yaitu, IPA 1, termasuk Mou. Sepuluh Tiga gue tinggalkan dengan nilai yang biasa aja kata Mama gue. Gue kangen gue yang masih bocah kala itu, dimana yang gue tahua hanyalah bagaimana melewati pelajaran tiap jamnya dengan baik. Dan soal cinta, kisah cinta gue di SMA gak selesai disini. Karena sebenarnya, malah ini hanyalah awal dari kisah gue yang lebih aneh hahaha.

Sampai jumpa, Sepuluh Tiga.
Saya rindu. 

Komentar

Postingan Populer